author avatar
Posted by Eka Meigalia 21 August, 2009 (0) Comment

Jelangkung jelangsat
Di sini ada pesta
Pesta kecil-kecilan
Jelangkung jelangsat
Datang tidak diundang
Pergi tidak diantar

Pernah memainkan atau tidak, paling tidak kita tahu permainan jelangkung. Kutipan di atas pun tentunya tidak asing pula. Bisa dikatakan untaian kata-kata tersebut sebagai mantra untuk memanggil makhluk gaib dalam permainan jelangkung. Kata-kata itu pun diucapkan berkali-kali agar makhluk halusnya benar-benar datang. Read the rest of this entry

Categories : Minangkabau Tags : , , , , ,

author avatar
Posted by Eka Meigalia 2 August, 2009 (4) Comment

Pertunjukan Salawat Dulang (SD) biasanya diadakan pada malam hari sesudah Salat Isya, yaitu kira-kira mulai pukul 21.00 hingga beberapa saat menjelang Salat Subuh. Pertunjukan diadakan dalam rangka memperingati hari-hari besar agama Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad (SAWS) SAW, Isra Mikraj, Nuzul Quran, dan tahun baru Hijriah. Selain itu, SD juga ditampilkan dalam rangka alek nagari. Alek nagari merupakan satu perayaan di sebuah nagari dalam rangka mengumpulkan dana untuk pembangunan sarana dan prasarana umum di nagari tersebut. Read the rest of this entry

Categories : Minangkabau Tags : , , , , , , , ,

author avatar
Posted by Eka Meigalia 23 July, 2009 (0) Comment

Sejak pukul 20.00 malam di sekitar Mesjid Nurul Qalbi, daerah Kayu Aro Padang-Pariaman sudah ramai. Tua-muda, besar-kecil beramai-ramai ke mesjid itu. Di dalam dan luar mesjid tidak ada tempat yang kosong lagi. Di dalam mesjid bahkan terlihat lebih ramai dan meriah lagi. Dinding mesjid ditempel kain berwarna-warni layaknya sebuah tempat yang sedang ada hajatan. Di tengah mesjid ada meja besar yang di atasnya penuh dengan makanan yang dihias semenarik mungkin. Ada kue, buah-buahan, serta ayam panggang. Kata penduduk setempat akan ada lelang besar-besaran nantinya. Lelang itu diadakan untuk pembangunan fasilitas umum masyarakat setempat, sekaligus perayaan tahun baru Hijriah. Read the rest of this entry

Categories : Minangkabau Tags : , , , , ,

author avatar
Posted by Eka Meigalia 16 July, 2009 (0) Comment

Berdasarkan informasi dari mulut ke mulut, sejarah Salawat Dulang (disingkat dengan SD) ini berawal dari banyaknya ahli agama Islam Minang yang belajar agama ke Aceh, di antaranya adalah Syeh Burhanuddin1. Ia kemudian kembali ke Minang dan menetap di Pariaman. Dari daerah itu ajaran Islam menyebar ke seluruh wilayah Minangkabau.2 Saat berdakwah itu, Syeh Burhanuddin teringat pada kesenian Aceh yang fungsinya adalah menghibur sekaligus menyampaikan dakwah, yaitu tim rebana3. Syeh Burhanuddin pun kemudian mengambil talam atau dulang yang biasa digunakan untuk makan dan menabuhnya sambil mendendangkan syair-syair dakwah. Read the rest of this entry

Categories : Minangkabau Tags : , , , , , ,

author avatar
Posted by Eka Meigalia 6 February, 2009 (3) Comment

Adriyetti Amir, dkk., Pemetaan Sastra Lisan Minangkabau, Padang: Andalas University Press, 2006; 205 halaman.

Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang berpotensi untuk berkembang menjadi daerah tujuan wisata utama setelah Jawa dan Bali. Selain alamnya yang indah, Sumatera Barat juga kaya akan budaya. Tradisi yang ada di daerah ini dapat diolah dan dikemas menjadi menarik sehingga dapat menjadi sajian wisata.

Salah satu tradisi yang berkembang dengan subur di wilayah ini adalah tradisi lisan. Tradisi lisan yang dimaksud adalah segala wacana yang diucapkan atau disampaikan secara turun-temurun, meliputi yang lisan dan yang beraksara yang disampaikan secara lisan (Pudentia, 2007:27), dan dijadikan obyek penelitian oleh Amir dan kawan-kawan dari Universitas Andalas untuk dipetakan1. Penelitian berjudul “Pemetaan Sastra Lisan Minangkabau” tersebut adalah sebuah proyek yang dilakukan dengan dukungan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) pada tahun 1998. Setelah melalui proses editing dan penyusunan kembali, hasil penelitian tersebut diterbitkan oleh Andalas University Press pada tahun 2006. Read the rest of this entry

Categories : Books, Reviews Tags : , , , , ,

author avatar
Posted by Eka Meigalia 4 February, 2009 (2) Comment

Latar Belakang

Ketika mendengar istilah ronggeng, yang terpikir pertama kali adalah salah satu seni tradisi dari Jawa yang berhubungan dengan ritus kesuburan. Namun tradisi ronggeng tersebut ternyata juga ditemukan di daerah Minangkabau yang jelas-jelas adat-istiadat serta tradisinya berbeda dengan Jawa. Yang lebih menarik, ronggeng di sini telah diakui sebagai salah satu seni tradisi Minangkabau, khususnya sebagai sebuah tradisi lisan dari daerah Minangkabau, tepatnya dari daerah Pasaman.

Baik ronggeng maupun Pasaman ternyata keduanya memiliki cerita dan hal-hal yang unik seputar isu multikultur. Pasaman sebagai salah satu wilayah administratif di Sumatera Barat berdasarkan hasil survey dihuni oleh tiga etnis dominan, yaitu Minangkabau, Mandailing, dan Jawa (www.depdagri.go.id). Ketiga etnis dominan yang mendiami daerah Pasaman tersebut sudah tinggal hingga beberapa generasi di daerah tersebut. Masing-masing etnis memberi pengaruh terhadap budaya, tradisi, serta bahasa di sana.

Berbicara mengenai interaksi dan hidup berdampingan antara etnis Minang, Jawa, dan Mandailing di Pasaman tidak dapat dilepaskan dari permasalahan multikultur. Multikultur sebagai suatu bentuk kehidupan sosial yang terdiri dari beberapa budaya yang hidup berdampingan antara lain juga terkait dengan isu identitas, migrasi (diaspora), serta hibriditas. Hal ini akan sengat menarik salah satunya dengan mengambil daerah Pasaman sebagai objek kajiannya.

Lebih spesifik lagi, interaksi serta hidup berdampingan antara tiga etnis tersebut di Pasaman telah menghasilkan salah satu produk budaya yang dapat dikatakan sebagai produk budaya yang hibrid, yaitu tradisi ronggeng yang oleh masyarakat setempat disebut ronggeng pasaman. Di dalamnya dapat ditemukan beragam unsur budaya dari etnis Minang, Jawa, dan juga Mandailing. Hal ini akan penulis bahas lebih lanjut dalam tulisan berikut ini. Read the rest of this entry

Categories : Minangkabau Tags : , , , ,

author avatar
Posted by Eka Meigalia 19 May, 2008 (2) Comment

Secara geografis, wilayah Minangkabau dapat disamakan dengan wilayah Sumatera Barat, tetapi dari segi sosial budaya ada perbedaan di antara keduanya. Menurut Mansoer (1970: 2), istilah “Minangkabau” (kadang-kadang disebut dengan “Minang” yang merupakan akronim dari “Minangkabau”) mengandung pengertian kebudayaan di samping makna geografis, tetapi “Sumatera Barat” hanya mengandung pengertian geografis. Hal itu dapat dilihat dari adanya istilah “suku Minangkabau,” tetapi tidak ada “suku Sumatera Barat,” ada bahasa Minang, tetapi tidak ada bahasa Sumatera Barat. Minangkabau dalam arti sosial budaya tersebut sebenarnya memiliki wilayah lebih luas dari Provinsi Sumatera Barat. Hal itu disebabkan oleh pemakai budaya Minangkabau yang tidak hanya meliputi masyarakat di Provinsi Sumatera Barat, tetapi juga meliputi sebagian masyarakat di Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Utara, bahkan sampai ke Negeri Sembilan di Malaysia (Samad, 2002: 102). Read the rest of this entry

Categories : Minangkabau Tags : , , , ,

snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake snowflake